Minggu, 27 Mei 2012

KIAT-KIAT AGAR TERHINDAR DARI MAKSIAT

KIAT-KIAT AGAR TERHINDAR DARI MAKSIAT

Mungkin kita tidak akan pernah menemukan satu pun di antara makhluk ciptaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang dinamakan ‘manusia’ termasuk kita luput dari melakukan maksiat. Tidak sedikit di antara mereka yang hidupnya penuh dengan maksiat, bahkan ada yang melakukannya setiap saat bak sebuah nikmat (wal ‘iyadzu billah).

Kendati demikian, bukan berarti kita lantas bebas dan semaunya berbuat maksiat, seharusnya kita takut terhadap siksa Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang pedihnya teramat sangat lagi maha dahsyat. Sudah sepatutnya kita sebagai hamba Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang terus menerus diberikan nikmat untuk selalu berusaha ta’at dan berupaya semaksimal mungkin mencari kiat-kiat agar terhindar dari segala maksiat yang merupakan tipu muslihat para setan yang terlaknat. Di antara kiat-kiat agar kita terhindar dari maksiat adalah sebagai berikut:
Kiat Pertama: Hendaklah seorang hamba mengetahui bahwa maksiat itu adalah perbuatan tercela, buruk dan hina.
Sesungguhnya Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengharamkan dan melarang untuk melakukannya semata-mata untuk menjaga dan melindungi manusia dari kehinaan tersebut, sebagaimana halnya seorang ayah yang penyayang dan penuh perhatian menjaga anaknya dari sesuatu yang membahayakannya. Dan faktor/ kiat ini tentu membawa seorang yang berakal untuk meninggalkan kemaksiatan yang diharamkan Allah Azza Wa Jalla, meskipun tidak disertai dengan ancaman akan siksa Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Kiat kedua: Memiliki rasa malu terhadap Allah Azza Wa Jalla.
Sesungguhnya seorang hamba ketika dia mengetahui bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala senantiasa melihatnya dan mengetahui kedudukanNYa atas dirinya, dan bahwasanya dirinya selalu dilihat/ dipantau dan (ucapannya selalu) didengar olehNya, maka tentu dia akan merasa malu kepadaNya untuk memperlihatkan atau melakukan perbuatan yang mengundang kemurkaanNya.
Kiat ketiga: Memelihara nikmat-nikmat Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan semua kebaikan yang diberikan Allah Subhanahu Wa Ta’ala kepadamu.
Sesungguhnya tidak diragukan lagi bahwa dosa-dosa merupakan sebab yang dapat menghilangkan nikmat-nikmat Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Maka tidaklah seorang hamba melakukan perbuatan dosa melainkan hilang nikmat Allah Subhanahu Wa Ta’ala darinya sebanyak atau sebesar dosa yang dikerjakan. Dan jika dia bertaubat dan kembali kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, maka kembalilah nikmat tersebut atau yang semisalnya kepadanya. Dan jika dia mengulangi kembali atau terus menerus melakukan dosa, maka nikmat pun tidak kembali kepadanya. Maka dosa-dosa itu pun senantiasa menghilangkan nikmat demi nikmat sampai semuanya lenyap dan tak tersisa. Sebagaimana yang difirmankan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, artinya, “Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. ar-Ra’d: 11).
Dan nikmat yang paling agung adalah nikmat iman, sedang dosa berzina, mencuri, minum khamer, dan mengambil hak/ harta orang lain dapat menghilangkan dan melenyapkannya. Sebagian salaf berkata, “Aku pernah melakukan dosa, dan aku pun diharamkan (terhalang) untuk melakukan shalat sunnah di waktu malam.” Dan yang lainnya berkata, “Aku pernah melakukan dosa, maka aku pun diharamkan (sulit) untuk memahami al-Qur`an.” Dan perkataan yang senada dengan ini, “Jika engkau mendapatkan kenikmatan, maka peliharalah ia, karena sesungguhnya kemaksiatan menghilangkan kenikmatan.”
Kesimpulannya sesungguhnya kemaksiatan adalah api yang membakar kenikmatan seperti api yang memakan kayu. Na’udzu billah dari kehilangan nikmat dan ampunanNya.
Kiat keempat: Takut kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan adzabNya.
Sesungguhnya hal ini hanyalah bagi orang yang beriman dengan janji dan ancaman Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan beriman denganNya, kitabNya, dan RasulNya. Dan kiat/ faktor ini menjadi kuat dengan ilmu dan keyakinan dan menjadi lemah dengan lemahnya keduanya. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman, artinya, “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama.” (QS. al-Hajj: 28).
Dan sebagian salaf berkata, “Cukuplah dengan ilmu, membuat (seseorang) takut kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Dan cukuplah dengan kebodohan, membuat (seseorang) lalai mengingat Allah Subhanahu Wa Ta’ala.”
Kiat kelima: Mencintai Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Dan inilah adalah kiat/ faktor yang paling kuat untuk melatih sabar untuk tidak menentang dan mendurhakaiNya. Karena sesungguhnya orang yang mencintai pasti patuh dan taat kepada siapa yang dicintainya.
Kiat keenam: Menjaga kehormatan diri, kesuciannya, keutamaannya, semangatnya, dan wibawanya, dari melakukan kemaksiatan.
Kiat ketujuh: Mengetahui dengan benar akan dampak buruk kemaksiatan, dan bahaya yang ditimbulkan olehnya.
Seperti: berupa wajah yang hitam, membuat hati menjadi gelap, sempit, gelisah, sedih dan sakit, menyesakkan dada, merusaknya, dan lemahnya hati untuk melawan musuhnya. Karena sesungguhnya dosa mematikan hati. Dan seorang hamba, apabila berbuat dosa, maka diletakkan titik hitam di dalam hati-nya, jika dia bertaubat darinya, maka bersinarlah hatinya. Dan apabila berbuat dosa yang lain, diletakkan kembali titik/ noda hitam lainnya, dan terus menerus (titik hitam itu menodai hatinya, pen.) sampai hatinya menjadi sombong, maka itulah hati yang telah tertutup. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman, artinya, “Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka.” (QS. al-Muthaffifin: 14).
Kesimpulannya adalah bahwa dampak-dampak buruk maksiat lebih banyak dari apa yang diketahui oleh seorang hamba, dan dampak-dampak baik ketaatan lebih banyak dari apa yang diketahui olehnya. Maka kebaikan dunia dan akhirat adalah dengan bersungguh-sungguh dalam mentaati Allah Subhanahu Wa Ta’ala, sedangkan keburukan dunia dan akhirat adalah dengan bersungguh-sungguh dalam bermaksiat kepadaNya. Dalam hadits qudsi, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman, “Siapakah orang yang mentaatiku, lalu dia menjadi sengsara dengan mentaatiku? Dan siapakah orang yang mendurhakaiku, lalu dia menjadi bahagia dengan mendurhakaiku?”
Kiat kedelapan: Pendek angan-angan dan mengetahui betapa cepatnya perpindahannya.
Dan sesungguhnya dia bagaikan seorang musafir yang masuk ke dalam suatu kampung sedangkan dia bertekad bulat untuk keluar darinya, atau bagaikan seorang penunggang yang berteduh di bawah pohon, kemudian pergi dan meninggalkannya, karena dia mengetahui bahwa singgahnya hanya sesaat sedangkan kepergiannya begitu cepat, sehingga mendorongnya untuk meninggalkan sesuatu yang memberatkan bebannya, membahayakan dan tidak bermanfaat baginya. Serta dia pun berkeinginan untuk pindah ke tempat yang lebih baik baginya. Maka tidak ada yang lebih bermanfaat bagi seorang hamba dari pendeknya angan-angan dan tidak ada yang lebih mudharat baginya dari “At-Taswif” (menunda-nunda/ucapan, ‘saya akan begini …..saya akan begitu.…’) dan panjang angan-angan.
Kiat kesembilan: Menjauhi (sikap) berlebihan dalam makan, minum, berpakaian, tidur dan berinteraksi dengan manusia.
Sesungguhnya kekuatan yang mendorong untuk berbuat maksiat adalah tumbuh dari hal-hal yang berlebihan tersebut. Sesungguhnya ia menuntut adanya perubahan, mempersempit yang halal dan membawanya kepada yang haram. Dan sesuatu yang paling berbahaya bagi seorang hamba adalah di waktu dia menganggur dan waktu kosongnya. Sesungguhnya jiwa, janganlah berada dalam keadaan kosong, bahkan jika ia tidak disibukkan dengan sesuatu yang bermanfaat baginya, maka ia pasti akan disibukkan dengan sesuatu yang membahayakannya.
Kiat kesepuluh: Inti dari kiat-kiat ini semua adalah tertancapnya pohon iman di dalam hati.
Kesabaran seorang hamba untuk tidak melakukan maksiat sesungguhnya terletak pada besarnya kadar kekuatan imannya. Setiap imannya bertambah kuat, maka semakin sempurnalah kesabarannya. Sedangkan jika imannya lemah, maka lemahlah kesabaran tersebut. Dan Allah Subhanahu Wa Ta’ala menentukan siapa yang dikehendakiNya (untuk diberi) rahmatNya; dan Allah Subhanahu Wa Ta’ala mempunyai karunia yang besar. (Abu Nabiel)
Sumber: Diterjemahkan dari kitab, “An-Nuqath al-’Asyru adz-Dzahabiyah”, karya: Syaikh Abdur Rahman bin Ali ad-Dausary.

0 komentar:

Poskan Komentar